Text
Menziarahi Indonesia: Mendedah Krisis Demokrasi, Serakahnomics, dan Daulat Kemanusiaan
Menulis tentang Indonesia di ambang tahun 2026 adalah sebuah tindakan ziarah sekaligus keberanian. Kini, Indonesia berdiri di persimpangan yang paradoksial. Di satu sisi, cakrawala Indonesia dihiasi megahnya infrastruktur Jakarta-IKN dan angka pertumbuhan makro yang molek. Namun di sisi lain, terdapat "retakan" pada tenun kebangsaan yang kian menganga: ketimpangan struktural, demokrasi mati suri, krisis ekologi, mewabahnya serakahnomics, patologi digital yang sulit dibendung, gonjang-ganjing organisasi kemasyarakatan, hingga ancaman autokolonialisme dalam bentuk kedaulatan rakyat dibajak oleh syahwat politik “koncoisme” maupun patronase politik. Buku “Menziarahi Indonesia” ini bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan sebuah ikhtiar intelektual yang lahir dari permenungan melihat kondisi bangsa yang tampak gagah di depan gawai, namun kian ringkih secara substansial. Namun, di tengah kelesuan nalar publik, buku ini menolak menyerah pada pesimisme. Melalui kacamata santri dan jangkar moral pesantren, saya mencoba menawarkan refleksi spiritual-moral sebagai kompas berbangsa dan bernegara. Nasionalisme di sini tidak diletakkan sebagai beban politik, melainkan sebagai manifestasi ibadah yang paling tulus: menerima perbedaan, menjaga hutan, membela kaum lemah, dan merawat kedaulatan moral organisasi keagamaan dari "hama" politik praktis. Menziarahi Indonesia adalah sebuah manifesto cinta. Karena bagi saya, cinta sejati tidaklah memanjakan dengan pujian palsu, melainkan menjaga dengan peringatan yang tulus. Buku ini merupakan bacaan wajib bagi siapa saja yang masih percaya bahwa di atas segala dogma dan kepentingan, ada kemanusiaan yang harus diselamatkan.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain