Text
Doomscrooling, Netizen dan Digital Well Being: Kajian Integratif Media, Sosiologi Dakwah dan Konseling Islam Ekspresif
Buku Doomscrolling, Netizen, dan Digital Wellbeing membahas kehidupan masyarakat Muslim dalam ekosistem digital yang semakin cepat, padat informasi, dan sarat tekanan psikososial. Perkembangan media digital telah mengubah cara manusia memperoleh informasi, berkomunikasi, belajar agama, membangun identitas keagamaan, serta berpartisipasi dalam ruang publik. Dalam konteks tersebut, fenomena seperti doomscrolling, budaya komentar, viralitas, disinformasi, fear of missing out (FoMO), information fatigue, digital burnout, dan polarisasi digital dipahami bukan sekadar sebagai persoalan individual, melainkan sebagai gejala sosial yang lahir dari ekonomi perhatian, algoritma platform, dan krisis makna masyarakat modern. Melalui perspektif integratif antara kajian media, sosiologi dakwah, dan konseling Islam, buku ini menegaskan bahwa dakwah digital tidak cukup hanya dipahami sebagai penyebaran pesan keagamaan, tetapi perlu hadir sebagai kekuatan edukatif, etis, reflektif, dan transformatif yang membimbing masyarakat agar mampu menggunakan media secara sadar, kritis, beradab, dan bertanggung jawab. Secara lebih luas, buku ini menawarkan digital wellbeing sebagai agenda penting dakwah kontemporer yang memadukan literasi media, etika komunikasi Islam, kesehatan mental, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Netizen Muslim diposisikan sebagai subjek sosial yang aktif dalam membangun identitas keagamaan, menyebarkan pesan dakwah, membentuk opini publik, sekaligus rentan terjebak dalam hoaks, ujaran kebencian, performativitas kesalehan, kelelahan digital, dan tekanan psikologis. Untuk menjawab tantangan tersebut, buku ini juga memperkenalkan Konseling Islam Ekspresif sebagai pendekatan integratif yang menggabungkan expressive therapy dengan nilai-nilai Islam melalui berbagai media, seperti expressive writing, bibliotherapy, painting therapy, storytelling, poetry therapy, kaligrafi Islami, reflective journaling, digital art therapy, dzikir reflektif, dan doa kreatif. Dengan demikian, buku ini menjadi referensi penting bagi mahasiswa, dosen, peneliti, praktisi dakwah, konselor, dan masyarakat luas dalam memahami ruang digital secara lebih kritis, menyehatkan, dan berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain